Rupa-Rupa Model Pengabdian Mahasiswa PTKI

503056

Surabaya (Kemenag) — Pengabdian masyarakat menjadi salah satu tugas mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Bentuk pengabdiannya beragam, sesuai format yang dirumuskan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) PTKI.

Menurut Kasi Penelitian Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Anis Masykur, kekayaaan pendekatan pengabdian masyarakat ini sedang dihimpun untuk dirumuskan menjadi pedoman bersama civitas akademika PTKI.

“Keberadaan panduan ini diharapkan bisa menjadi pedoman bagi PTKI yang saat ini masih sporadis dalam pelaksanaan salah satu fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi,” ujarnya dalam Perumusan Panduan Pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dan Kuliah Kerja Sosial (KKS, KKN), di Surabaya, Rabu (17/05).

Kegiatan yang diikuti para Kepala LP2M dan P3M PTKI ini menjadi ajang brainstorming best practise pengabdian mahasiswa kepada masyarakat berikut respon sosialnya.

Ketua P3M STAIN Kudus Ekawati Rahayuningsih misalnya, memaparkan tanggapan positif aparatur pemerintah daerah yang takjub dengan model pendekatan KKN mahasiswa STAIN Kudus. Menurutnya, desain KKN mahasiswanya melampaui core business keislaman dan bahkan dianggap menyamai model KKN perguruan tinggi terkemuka di Jawa Tengah. Sehingga, pejabat daerah tersebut “ketagihan” untuk melibatkan kembali STAIN Kudus untuk berpartisipasi dalam pembangunan daerahnya.

Lain halnya cerita yang disampaikan Mushofa Basyir, Sekretaris LP2M IAIN Pekalongan. “Pengalaman selama satu tahun Ini, LP2M mendorong pengabdian yang dapat memberikan sumbangsih pada pengembangan keilmuan program studi. Program pengabdian dilaksanakan oleh prodi dikomandoi dosen dan dibuat dengan tema-tema tertentu,” jelas Mushofa.

“Sebagai contoh, tema program pengabdian atau KKN untuk perwujudan kampung ramah anak. Model ini dikelola oleh dosen dan mahasiswa prodi PGMI dan PIAUD. Tema pendampingan komunitas desa untuk ketahanan ekonomi berbasis syariah ditangani oleh prodi Ekonomi Syariah, Hukum Ekonomi Syariah dan Perbankan Syariah, dan lain-lain,” paparnya.

Menurut Basyir, program pendampingan berbasis tema-tema tersebut dikawal oleh seorang dosen yang juga memahami cara melakukan pengabdian. Sehingga, dosen bisa menjadikan bahan pengabdian tersebut sebagai bahan tulisan untuk publikasi ilmiah. Hal yang demikian itu makin kentara sumbangsihnya kepada produksi ilmu pengetahuan.

Hal lain yang juga memiliki keunikan adalah praktik pemberdayaan masyarakat di UIN Maulana Maliki Malang, Mufidah. Kepala LP2M UIN Malang ini memaparkan bahwa program pendampingan masyarakat diinisiasi dengan menciptakan media “tempat berkumpul” masyarakat.

“Ini menjadi organisasi gerakan masyarakat lokal. Bahkan, kini sudah ada lebih dari 20 pesantren masyarakat, yang menjadi pusat gerakan pemberdayaan lintas bidang termasuk bidang ekonomi,” cerita Mufidah.

Namun, masih ada PTKI yang menerapkan model pemberdayaan masyarakat dengan hanya fokus pada penguatan praktik keagamaan, seperti praktik khutbah Jumat, pengurusan jenazah dan dasar keagamaan lainnya. “Beberapa daerah pedalaman masih membutuhkan sisi-sisi penguatan keagamaan seperti fardhu kifayah atau pelatihan jadi imam,” jelas Ghazali, Kepala Pusat Pengabdian UIN Alauddin Makassar.

Pendekatan seperti itu hanya untuk daerah-daerah tertentu saja. “Pada pemetaan awal sebelum pengabdian seringkali ditemukan pelaksanaan Shalat Jumat digagalkan dikarenakan petugas khatib atau imamnya sedang berhalangan,” terangnya. (n15/mkd/mkd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *