KH. Noerhadi, Pejuang Pendidikan Islam di Pulau Dewata

437479-2

Tabanan (Pinmas) — Perkembangan Pendidikan Islam di Pulau Dewata Bali tidak bisa dilepaskan dari sosok KH. Noerhadi. Santri Mbah Arwani Kudus ini berjuang merintis lembaga pendidikan Islam dan berjuang mendakwahkan Agama Islam di tengah-tengah mayoritas ummat lain sejak 1979.

Saat ini, beliau adalah pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Raudlatul Hufadz di Desa Abian Tuwung Kediri Tabanan Bali. Lembaga Pendidikan ini mengelola Pendidikan Diniyah Takmiliyah, Taman Pendidikan al-Quran, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, dan Pondok Pesantren.

Di sela menjalankan tugas mendampingi Kunjungan Kerja Komisi VIII DPR RI ke Pemerintah Provinsi Bali di Denpasar, Senin (19/12), penulis menyempatkan diri bersilaturahmi dan berbincang soal pendidikan Islam di Pulau Bali dengan KH. Noerhadi.

Sosoknya demikian lembut, santun, dan sederhana. Rambut putih sudah menyemburat penanda usia yang sudah semakin senja. Namun matanya masih berbinar dan sangat terbuka untuk berbagi kisah tentang perjuangannya.

Menurutnya, keinginan kuat Noerhadi untuk mengajar di Bali terinspirasi dari pesan gurunya saat nyantri ilmu al-Quran di Pondok Pesantren Mbah Arwani Kudus, agar berdakwah di Bali. Pesan ini begitu kuat terpatri pada jiwa dan ingatannya selama menjadi santri. Oleh karena itu, setelah menamatkan ngaji al-Quran di Kudus, pada awal Tahun 1979, pemuda asal Demak ini memutuskan untuk berangkat ke Pulau Bali.

Tanpa modal finansial yang memadai, tanpa Surat Keputusan (SK) sebagai pegawai pemerintah, dan apalagi iming-iming tunjangan profesi, Noerhadi berangkat ke Bali. Berbekal restu sang kyai (Mbah Arwani), keraguan, kekhawatiran, dan rasa pesimis dihempaskan. Sebaliknya, yang terbayang adalah optimis, impian sukses, dan keberhasilan.

Tiba di Bali, Noerhadi bekerja keras memeras keringat untuk mengumpulkan modal demi merealisasikan cita-citanya. Hasil jerih payahnya disisihkan demi bisa membeli tanah. Dari tanah yang dibeli, Noerhadi lalu mendirikan pondok pesantren. “Kelak kalau kamu mampu mendirikan pondok pesantren, agar diberikan nama Raudlatul Hufadz,” kata Noerhadi teringat dengan pesan Mbah Arwani.

Sebagai santri, Noerhadi muda juga konsern dengan kondisi Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah-sekolah di Provinsi Bali. Saat itu, dia melihat tidak ada Guru Pendidikan Agama Islam pada semua sekolah di wilayah itu. Akibatnya, semua nilai agama peserta didik muslim kosong. Oleh Kanwil Departemen Agama (baca: Kementerian Agama) dan Pemerintah Daerah, Noerhadi lalu diminta memberikan penilaian kemampuan semua anak didik Muslim pada semua sekolah di Bali.

Sadar bahwa pekerjaan itu tidak mungkin dijalani sendiri, KH Neorhadi mengusulkan agar pemerintah daerah mengangkat guru-guru Pendidikan Agama Islam di wilayah Bali. Atas kepedulian salah satu pejabat Pemprov Bali waktu itu, Mulyono Setiawan, perjuangan dan usulan KH. Noerhadi dikabulkan. Tahun 1980 diangkatlah 30 orang Guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Karena jumlahnya dirasakan masih kurang, tahun 1981 diangkat lagi sebanyak 30 guru. Tahun-tahun berikutnya kekurangannya dipenuhi oleh guru agama honorer.

Seiring keberadaan para guru PAI di sekolah Bali, KH. Noerhadi bisa lebih bekonsentrasi mengurus pondok pesantren bersama-sama putra putrinya. Waktu terus berjalan mengantarkan KH Noerhadi dan pesantrennya terus berkembang hingga sekarang. Tak terasa, para guru PAI yang diangkat di pada tahun 1970-an sudah memasuki masa pensiun.

Kini keprihatinan mendalam kembali menggelayut di hatinya. Kalau para guru PAI pensiun, lantas siapa yang nanti akan menggantikan mereka membina, mendidik, dan mendampingi siswa siswa muslim di sekolah-sekolah umum di provinsi Bali. KH Noerhadi berharap pemerintah serius memperhatikan kondisi ini. Terimakasih pak kyai, perjuanganmu menginspirasi kami. (Imam Safei/mkd/mkd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *