GURU PAI HARUS JADI INSPIRATOR GURU LAIN

7999

Lombok (Pendis) – Direktorat PAI boleh berbangga karena memiliki guru-guru PAI yang handal berkat pelatihan-pelatihan yang merupakan terobosan besar sejak 2 tahun terakhir. Kini guru PAI sudah berada di depan, bahkan sering menjadi rujukan guru mata pelajaran lain. Pelatihan kurikulum PAI yang dirintis DitPAI bahkan mulai diikuti oleh madrasah, beberapa guru Dikbud dan LPMP. Tentunya ini sebuah prestasi yang luar biasa dan harus diapresiasi. Demikian beberapa kalimat sambutan yang disampaikan oleh Dr. Amin Haedari, M.Pd di hadapan guru-guru PAI SD se-Nusa Tenggara Barat (NTB) di Lombok, 22 Maret 2016. Masih dalam rangkaian pelaksanaan kegiatan Pengembangan Pembelajaran dan Penilaian Kurikulum PAI Tahun 2016 yang dilaksanakan 3 hari, 22-24 Maret 2016, Amin tak bosannya mensupport para guru PAI agar memiliki kemampuan lebih dari yang lain dan selalu berusaha mengembangkan kompetensinya terutama dalam hal pembelajaran. “Kalau bisa guru PAI harus memberikan inspirasi bagi guru lain. Ya GPAI harus bisa jadi inspirator”.

Pelatihan kurikulum yang dikembangkan oleh Direktorat PAI sejak tahun 2014 sudah diperkenalkan ke seluruh pelosok tanah air tanpa kecuali dan diskriminasi. “Kita punya para instruktur-instruktur yang handal yang telah mengembangkan modul-modul sendiri untuk pelatihan maupun pembelajaran yang berkualitas, karenanya saya berharap para guru benar-benar memanfaatkan pelatihan dengan sebaik-baiknya”, lanjut Amin. Ia menambahkan bahwa output pelatihan itu cuma satu yakni menjadi lebih tahu dari pada para guru yang belum terlatih atau istilahnya, “innii ta`lamu ma laa ta`lamun“. Saya tahu apa yang kamu tidak tahu. Dalam Al Qur`an pun diceritakan sebelum Nabi Adam AS diberi amanah untuk menjadi khalifah di muka bumi, Allah SWT memberi pelatihan lebih dulu kepada Adam agar tahu akan tugas kekhalifahannya. Itulah fungsi pelatihan yang utama, membuka cakrawala pengetahuan dari tak tahu menjadi tahu.

Sementara itu Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTB Drs.H. Sulaiman Hamid, SH, MH dalam sambutannya menyambut gembira pelaksanaan pelatihan kurikulum PAI di NTB. Ia berpendapat apa pun alasannya kurikulum merupakan tolak ukur dari sistem pendidikan agar lebih baik. Selama ini NTB telah terus menerus berupaya agar PAI di sekolah umum bisa disetarakan dan meningkat kualitas pembelajarannya dari jenjang SD sampai SMK.

Hadir dalam kegiatan pelatihan ini seorang dosen Amerika sekaligus peneliti pendidikan agama Islam asal Atlanta yang tengah melakukan riset di bidang keagamaan di Indonesia, bernama James. James pernah melakukan penelitian doktornya di pesantren Darut Tauhid, Bandung 10 tahun silam. Ia tengah beberapa hari di Indonesia untuk mengikuti konferensi terkait pendidikan agama di Jakarta dan sengaja hadir ke pelatihan Direktorat PAI di Lombok ini untuk mengamati pelaksanaan pelatihan setelah tertarik mengkaji modul pelatihan DITPAI. Meski mengaku belum mendapat hidayah menjadi seorang muslim, Ia terkesan dengan konsep keragaman dalam QS. Al Hujurat, bahwa Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal satu sama lain. Menurutnya inilah konsep Islam yang utama yakni Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, Islam yang menjunjung tinggi humanisme tidak seperti yang dipersangkakan sebagian masyarakat Internasional khususnya di negaranya, Amerika Serikat mengenai Islam di balik terorisme. Selama perkenalannya dengan para tokoh agama termasuk pendidik agama di Indonesia, setelah melakukan beberapa penelitian James mengambil kesimpulan bahwa jika ingin belajar Islam yang benar,tak perlu jauh-jauh ke Timur Tengah cukup di Indonesia saja, ujarnya. James pun memberikan semangat kepada GPAI yang mengikuti pelatihan agar percaya diri dan bangga menjadi guru agama, karena menjadi guru berarti ikut menanam bibit masa depan.
(wikan/ra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *